VMenu
- 2013 (6)
-
2012
(48)
- Desember (1)
-
November
(12)
- KARAKTERISTIK MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF
- Kode-kode rahasia di Handphone
- Macam-macam lagu seni baca Al-Qur’an
- Bersyukur atas Nikmat Allah ( mensyukuri alam)
- TEORI PERDAGANGAN INTERNASIONAL
- DAMPAK KEBAKARAN HUTAN TERHADAP KEANEKA-RAGAMAN HA...
- BAHAYA DAMPAK KEBAKARAN
- Kiamat Menurut Al-Qur'an
- Cara Mendekatkan diri Kepada Allah
- Mengenal Para Wali Allah
- Kode Naruto Ultimate Ninja 3 Bahasa Indonesia Lengkap
- Kode Downhill Domination Lengkap
- Oktober (28)
- September (7)
Search
Block
Enter Block content here...
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Etiam pharetra, tellus sit amet congue vulputate, nisi erat iaculis nibh, vitae feugiat sapien ante eget mauris.
Blogroll
Archives
-
▼
2012
(48)
-
▼
November
(12)
- KARAKTERISTIK MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF
- Kode-kode rahasia di Handphone
- Macam-macam lagu seni baca Al-Qur’an
- Bersyukur atas Nikmat Allah ( mensyukuri alam)
- TEORI PERDAGANGAN INTERNASIONAL
- DAMPAK KEBAKARAN HUTAN TERHADAP KEANEKA-RAGAMAN HA...
- BAHAYA DAMPAK KEBAKARAN
- Kiamat Menurut Al-Qur'an
- Cara Mendekatkan diri Kepada Allah
- Mengenal Para Wali Allah
- Kode Naruto Ultimate Ninja 3 Bahasa Indonesia Lengkap
- Kode Downhill Domination Lengkap
-
▼
November
(12)
Categories
- elektronik (1)
- Game (11)
- Hacker (1)
- Kode PS2 (8)
- Pendidikan (23)
- religi (18)
- Trik blog (2)
Labels
- elektronik (1)
- Game (11)
- Hacker (1)
- Kode PS2 (8)
- Pendidikan (23)
- religi (18)
- Trik blog (2)
Terjemahan
Translate Widget by Google
Random Ayat
Login Form
Blogroll
1. Ibnu Majjah
2. Al-Habib
3. Blog Anank PS
4. Insan Madani
5. Lentera Blogger
6. Radio Rodja
7. Cheatssoul
8. Kangasepsule
9. HBIS
10.Deru dalam Debu
Diberdayakan oleh Blogger.
Mengenai Saya
Followers
Minggu, 04 November 2012
Selama
ini kita mengenal Wali Allah sebagai orang yang dikeramatkan, dan mampu
melakukan hal hal yang luar biasa. Di Pulau Jawa kita mengenal Wali
Songo , sembilan orang Kyai yang menyebarkan agama Islam di Pulau jawa
yang dikenal mencapai tingkatan para wali. Masing masing wali mempunyai
keistimewaan sendiri sendiri. Seperti Sunan Bonang yang menciptakan buah
atap (kolang kaling) menjadi butiran emas dihadapan Raden Mas Said yang
hendak merampoknya. Sunan Kalijaga membuat tiang utama Masjid Demak
dalam semalam dan lain sebagainya.
Tingkat
kewalian yang terdapat dalam diri seseorang mukmin sesuai dengan
tingkat keimanannya. Para wali Allah yang paling tinggi tingkat
kewaliannya adalah para nabi, dan diantara para nabi yang paling tinggi
tingkat kewaliannya adalah para rasul, dan diantara para rasul yang
paling tinggi tingkat kewaliaanya adalah rasul ulul azmi, dan diantara
rasul ulul azmi yang paling tinggi tingkat kewaliannya adalah Rasulullah
Muhammad SAW. Maka barangsiapa yang mengaku mencintai Allah dan dekat
dengan-Nya (mengaku sebagai wali Allah), tetapi ia tidak mengikuti sunah
Rasulullah Muhammad SAW, maka sebenarnya ia bukanlah wali Allah tetapi
musuh Allah dan wali setan (lihat Al Furqan, hal 6) .
2. TANDA TANDA WALI ALLAH
Dari Said ra, ia berkata:
“Ketika Rasulullah saw ditanya: “Siapa wali-wali Allah?” Maka beliau bersabda: “Wali-wali Allah adalah orang-orang yang jika dilihat dapat mengingatkan kita kepada Allah.”
2. Jika mereka tiada, tidak pernah orang mencarinya.
Dari Abdullah Ibnu Umar Ibnu Khattab, katanya:
10 Hadis riwayat Abu Daud dalam Sunannya dan Abu Nu’aim dalam Hilya jilid I hal. 6
Hadis riwayat Ibnu Abi Dunya di dalam kitab Auliya’ dan Abu Nu’aim di dalam Al Hilya Jilid I hal 6).
“Pada suatu kali Umar mendatangi tempat Mu’adz ibnu Jabal ra, kebetulan ia sedang menangis, maka Umar berkata: “Apa yang menyebabkan engkau menangis, wahai Mu’adz?” Kata Mu’adz: “Aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: “Orang-orang yang paling dicintai Allah adalah mereka yang bertakwa yang suka menyembunyikan diri, jika mereka tidak ada, maka tidak ada yang mencarinya, dan jika mereka hadir, maka mereka tidak dikenal. Mereka adalah para imam petunjuk dan para pelita ilmu.”
3. Mereka bertakwa kepada Allah.
Allah swt berfirman:
“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhuwatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati Mereka itu adalah orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa.. Dan bagi mereka diberi berita gembira di dalam kehidupan dunia dan akhirat”13
Abul Hasan As Sadzili pernah berkata: “Tanda-tanda kewalian seseorang adalah redha dengan qadha, sabar dengan cubaan, bertawakkal dan kembali kepada Allah ketika ditimpa bencana.”
4. Mereka saling menyayangi dengan sesamanya.
Dari Umar Ibnul Khattab ra berkata:
Hadis riwayat Nasa’i, Al Bazzar dan Abu Nu’aim di dalam Al Hilyah jilid I hal. 6
Surah Yunus: 62 – 64
Hadisriwayat.Al Mafakhiril ‘Aliyah hal 104
“Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya sebahagian hamba Allah ada orang-orang yang tidak tergolong dalam golongan para nabi dan para syahid, tetapi kedua golongan ini ingin mendapatkan kedudukan seperti kedudukan mereka di sisi Allah.” Tanya seorang: “Wahai Rasulullah, siapakah mereka dan apa amal-amal mereka?” Sabda beliau: “Mereka adalah orang-orang yang saling kasih sayang dengan sesamanya, meskipun tidak ada hubungan darah maupun harta di antara mereka. Demi Allah, wajah mereka memancarkan cahaya, mereka berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya, mereka tidak akan takut dan susah.” Kemudian Rasulullah saw membacakan firman Allah yang artinya: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.”
5. Mereka selalu sabar, wara’ dan berbudi pekerti yang baik.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra bahwa”Rasulullah saw bersabda:
Hadis riwayat Abu Nu’aim dalam kitab Al Hilya jilid I, hal 5
“Ada tiga sifat yang jika dimiliki oleh seorang, maka ia akan menjadi wali Allah, iaitu: pandai mengendalikan perasaannya di saat marah, wara’ dan berbudi luhur kepada orang lain.”
Rasulullah saw bersabda: “Wahai Abu Hurairah, berjalanlah engkau seperti segolongan orang yang tidak takut ketika manusia ketakutan di hari kiamat. Mereka tidak takut siksa api neraka ketika manusia takut. Mereka menempuh perjalanan yang berat sampai mereka menempati tingkatan para nabi. Mereka suka berlapar, berpakaian sederhana dan haus, meskipun mereka mampu. Mereka lakukan semua itu demi untuk mendapatkan redha Allah. Mereka tinggalkan rezeki yang halal kerana akan amanahnya. Mereka bersahabat dengan dunia hanya dengan badan mereka, tetapi mereka tidak tertipu oleh dunia. Ibadah mereka menjadikan para malaikat dan para nabi sangat kagum. Sungguh amat beruntung mereka, alangkah senangnya jika aku dapat bertemu dengan mereka.” Kemudian Rasulullah saw menangis kerana rindu kepada mereka. Dan beliau bersabda: “Jika Allah hendak menyiksa penduduk bumi, kemudian Dia melihat mereka, maka Allah akan menjauhkan siksaNya. Wahai Abu Hurairah, hendaknya engkau menempuh jalan mereka, sebab siapapun yang menyimpang dari penjalanan mereka, maka ia akan mendapati siksa yang berat.”
6. Mereka selalu terhindar ketika ada bencana.
Dari Ibnu Umar ra, katanya:
“Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah mempunyai hamba-hamba yang diberi makan dengan rahmatNya dan diberi hidup dalam afiyahNya, jika Allah mematikan mereka, maka mereka akan dimasukkan ke dalam syurgaNya. Segala bencana yang tiba akan lenyap secepatnya di hadapan mereka, seperti lewatnya malam hari di hadapan mereka, dan mereka tidak terkena sedikitpun oleh bencana yang datang.”
Rujukan:-
Hadis riwayat Ibnu Abi Dunya di dalam kitab Al Auliya’
Hadis riwayat Abu Hu’aim dalam kitab Al Hilya
Hadis riwayat Abu Nu’aim dalam kitab Al Hilya jilid I hal 6
8. Hati mereka selalu terkait kepada Allah.
Imam Ali Bin Abi Thalib berkata kepada Kumail An Nakha’i: “Bumi ini tidak akan kosong dari hamba-hamba Allah yang menegakkan agama Allah dengan penuh keberanian dan keikhlasan, sehingga agama Allah tidak akan punah dari peredarannya.. Akan tetapi, berapakah jumlah mereka dan dimanakah mereka berada? Kiranya hanya Allah yang mengetahui tentang mereka. Demi Allah, jumlah mereka tidak banyak, tetapi nilai mereka di sisi Allah sangat mulia. Dengan mereka, Allah menjaga agamaNya dan syariatNya, sampai dapat diterima oleh orang-orang seperti mereka. Mereka menyebarkan ilmu dan ruh keyakinan. Mereka tidak suka kemewahan, mereka senang dengan kesederhanaan. Meskipun tubuh mereka berada di dunia, tetapi rohaninya membumbung ke alam malakut. Mereka adalah khalifah-khalifah Allah di muka bumi dan para da’i kepada agamaNya yang lurus. Sungguh, betapa rindunya aku kepada mereka.”
9. Mereka senang bermunajat di akhir malam.
Imam Ghazali menyebutkan: “Allah pernah memberi ilham kepada para siddiq: “Sesungguhnya ada hamba-hambaKu yang mencintaiKu dan selalu merindukan Aku dan Akupun demikian. Mereka suka mengingatiKu dan memandangKu dan Akupun demikian. Jika engkau menempuh jalan mereka, maka Aku mencintaimu. Sebaliknya, jika engkau berpaling dari jalan mereka, maka Aku murka kepadamu. ” Tanya seorang siddiq: “Ya Allah, apa tanda-tanda mereka?” Firman Allah: “Di siang hari mereka selalu menaungi diri mereka, seperti seorang pengembala yang menaungi kambingnya dengan penuh kasih sayang, mereka merindukan terbenamnya matahari, seperti burung merindukan sarangnya. Jika malam hari telah tiba tempat tidur telah diisi oleh orang-orang yang tidur dan setiap kekasih telah bercinta dengan kekasihnya, maka mereka berdiri tegak dalam solatnya. Mereka merendahkan dahi-dahi mereka ketika bersujud, mereka bermunajat, menjerit, menangis, mengadu dan memohon kepadaKu. Mereka berdiri, duduk, ruku’, sujud untukKu. Mereka rindu dengan kasih sayangKu. Mereka Aku beri tiga kurniaan: Pertama, mereka Aku beri cahayaKu di dalam hati mereka, sehingga mereka dapat menyampaikan ajaranKu kepada manusia. Kedua, andaikata langit dan bumi dan seluruh isinya ditimbang dengan mereka, maka mereka lebih unggul dari keduanya. Ketiga, Aku hadapkan wajahKu kepada mereka. Kiranya engkau akan tahu, apa yang akan Aku berikan kepada mereka?”
Rujukan:-
Nahjul Balaghah hal 595 dan Al Hilya jilid 1 hal.. 80
Ihya’ Ulumuddin jilid IV hal 324 dan Jilid I hal 358
10. Mereka suka menangis dan mengingat Allah.
‘Iyadz ibnu Ghanam menuturkan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: “Malaikat memberitahu kepadaku: “Sebaik-baik umatku berada di tingkatan-tingkatan tinggi. Mereka suka tertawa secara terang, jika mendapat nikmat dan rahmat dari Allah, tetapi mereka suka menangis secara rahsia, kerana mereka takut mendapat siksa dari Allah. Mereka suka mengingat Tuhannya di waktu pagi dan petang di rumah-rumah Tuhannya. Mereka suka berdoa dengan penuh harapan dan ketakutan. Mereka suka memohon dengan tangan mereka ke atas dan ke bawah. Hati mereka selalu merindukan Allah. Mereka suka memberi perhatian kepada manusia, meskipun mereka tidak dipedulikan orang. Mereka berjalan di muka bumi dengan rendah hati, tidak congkak, tidak bersikap bodoh dan selalu berjalan dengan tenang. Mereka suka berpakaian sederhana. Mereka suka mengikuti nasihat dan petunjuk Al Qur’an. Mereka suka membaca Al Qur’an dan suka berkorban. Allah suka memandangi mereka dengan kasih sayangNya. Mereka suka membahagikan nikmat Allah kepada sesama mereka dan suka memikirkan negeri-negeri yang lain. Jasad mereka di bumi, tapi pandangan mereka ke atas. Kaki mereka di tanah, tetapi hati mereka di langit. Jiwa mereka di bumi, tetapi hati mereka di Arsy. Roh mereka di dunia, tetapi akal mereka di akhirat. Mereka hanya memikirkan kesenangan akhirat. Dunia dinilai sebagai kubur bagi mereka. Kubur mereka di dunia, tetapi kedudukan mereka di sisi Allah sangat tinggi. Kemudian beliau menyebutkan firman Allah yang artinya: “Kedudukan yang setinggi itu adalah untuk orang-orang yang takut kepada hadiratKu dan yang takut kepada ancamanKu.”
11. Jika mereka berkeinginan, maka Allah memenuhinya.
Dari Anas ibnu Malik ra berkata: “Rasul saw bersabda: “Berapa banyak manusia lemah dan dekil yang selalu dihina orang, tetapi jika ia berkeinginan, maka Allah memenuhinya, dan Al Barra’ ibnu Malik, salah seorang di antara mereka.”
Ketika Barra’ memerangi kaum musyrikin, para sahabat: berkata: “Wahai Barra’, sesungguhnya Rasulullah saw pernah bersabda: “Andaikata Barra’ berdoa, pasti akan terkabul. Oleh kerana itu, berdoalah untuk kami.” Maka Barra’ berdoa, sehingga kami diberi kemenangan.
Di medan peperangan Sus, Barra’ berdo’a: “Ya Allah, aku mohon, berilah kemenangan kaum Muslimin dan temukanlah aku dengan NabiMu.” Maka kaum Muslimin diberi kemenangan dan Barra’ gugur sebagai syahid.
Rujukan:-
Hadis riwayat Abu Nu’aim dalam Hilya jilid I, hal 16
12. Keyakinan mereka dapat menggoncangkan gunung.
Abdullah ibnu Mas’ud pernah menuturkan:
“Pada suatu waktu ia pernah membaca firman Allah: “Afahasibtum annamaa khalaqnakum ‘abathan”, pada telinga seorang yang pengsan. Maka dengan izin Allah, orang itu segera sedar, sehingga Rasuulllah saw bertanya kepadanya: “Apa yang engkau baca di telinga orang itu?” Kata Abdullah: “Aku tadi membaca firman Allah: “Afahasibtum annamaa khalaqnakum ‘abathan” sampai akhir surah.” Maka Rasul saw bersabda: “Andaikata seseorang yakin kemujarabannya dan ia membacakannya kepada suatu gunung, pasti gunung itu akan hancur.”
- Hadis riwayat Abu Nu’aim dalam Al Hilya jilid I hal 7
3. HAKIKAT SAKIT SEORANG WALI ALLAH
Suatu
hari aku berziarah kepada Guruku. Saat itu Beliau sedang terbaring di
opname dirumah sakit. Bersyukur sekali dalam kedaan darurat aku di
izinkan untuk langsung bertemu Beliau. Aku masih ingat saat itu aku
menangis lama melihat Guruku yang selama ini gagah dan sehat terbaring
lemah di kamar rumah sakit. Aku masuk kekamar dengan pelan agar tidak
mengganggu istrahat Beliau. Beliau melirik ke arahku dan berkata:
Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, contohkan pada kami salahsatu dari mereka?” Beliau SAW menjawab: “Itulah ‘Uways al-Qarani.” Para sahabat bertanya kembali: “Seperti apakah ‘Uways al-Qarani?” Beliau SAW menjawab: “Matanya berwarna hitam kebiru-biruan, rambutnya pirang, pundaknya bidang, postur tubuhnya sedang, warna kulitnya mendekati warna tanah (coklat-kemerahan), janggutnya menyentuh dada (karena kepalanya sering tertunduk hingga janggutnya menyentuh dada), pandangannya tertuju pada tempat sujud, selalu meletakkan tangan kanannya di atas tangan kiri, menangisi (kelemahan) dirinya, bajunya compang-camping tak punya baju lain, memakai sarung dan selendang dari bulu domba, tidak dikenal di bumi namun dikenal oleh penduduk langit, jika bersumpah (berdo’a) atas nama Allah pasti akan dikabulkan. Sesungguhnya di bawah pundak kirinya terdapat belang putih. Sesungguhnya kelak di hari kiamat, diserukan pada sekelompok hamba, “Masukklah ke dalam surga!” Dan diserukan
kepada ‘Uways, “Berhenti, dan berikanlah syafa’at!” Maka Allah memberikan syafa’at sebanyak kabilah Rabi’ah dan Mudhar.”
“Wahai ‘Umar, wahai `Ali! Jika kalian berdua menemuinya, mintalah padanya agar memohonkan ampun bagi kalian berdua, niscaya Allah akan mengampuni kalian berdua.” Maka mereka berdua mencarinya selama sepuluh tahun tetapi tidak berhasil. Ketika di akhir tahun sebelum wafatnya, ‘Umar ra berdiri di gunung Abu Qubais, lalu berseru dengan suara lantang: “Wahai penduduk Yaman, adakah di antara kalian yang bernama ‘Uways?”
Bangkitlah seorang tua yang berjenggot panjang, lalu berkata: “Kami tidak tahu ‘Uways yang dimaksud. Kemenakanku ada yang bernama ‘Uways, tetapi ia jarang disebut-sebut, sedikit harta, dan seorang yang paling hina untuk kami ajukan ke hadapanmu. Sesungguhnya ia hanyalah penggembala unta-unta kami, dan orang yang sangat rendah (kedudukan sosialnya) di antara kami. Demi Allah tak ada orang yang lebih bodoh, lebih gila (lebih aneh/nyentrik), dan lebih miskin daripada dia.”
Maka, menangislah ‘Umar ra, lalu beliau berkata: “Hal itu (kemiskinan & kebodohan spiritual) ada padamu, bukan padanya. Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Kelak akan masuk surga melalui syafa’atnya sebanyak kabilah Rabi`ah dan Mudhar.” Maka ‘Umar pun memalingkan pandangan matanya seakan-akan tidak membutuhkannya, dan berkata: Dimanakah kemenakanmu itu!? Apakah ia ada di tanah haram ini?” “Ya,” jawabnya. Beliau bertanya: “Dimanakah tempatnya?” Ia menjawab: “Di bukit ‘Arafat.” Kemudian berangkatlah ‘Umar dan ‘Ali ra dengan cepat menuju bukit ‘Arafat. Sampai di sana, mereka mendapatkannya dalam keadaan sedang shalat di dekat pohon dan unta yang digembalakannya di sekitarnya. Mereka mendekatinya, dan berkata: “Assalamu’alayka wa rahmatullah wa barakatuh.” ‘Uways mempercepat shalatnya dan menjawab salam mereka.
Mereka berdua bertanya: “Siapa engkau?” Ia menjawab: “Penggembala unta dan buruh suatu kaum.” Mereka berdua berkata: “Kami tidak bertanya kepadamu tentang gembala dan buruh, tetapi siapakah namamu?” Ia menjawab: ” `Abdullah (hamba Allah).” Mereka berdua berkata: “Kami sudah tahu bahwa seluruh penduduk langit dan bumi adalah hamba Allah, tetapi siapakah nama yang diberikan oleh ibumu?” Ia menjawab: “Wahai kalian berdua, apakah yang kalian inginkan dariku?”
Mereka berdua menjawab: “Nabi SAW menyifatkan kepada kami seseorang yang bernama ‘Uways al-Qarani. Kami sudah mengetahui akan rambut yang pirang dan mata yang berwarna hitam kebiru-biruan. Beliau SAW memberitahukan kepada kami bahwa di bawah pundak kirinya terdapat belang putih. Tunjukkanlah pada kami, kalau itu memang ada padamu, maka kaulah orangnya. Maka ia menunjukkan kepada mereka berdua pundaknya yang ternyata terdapat belang putih itu. Mereka berdua melihatnya seraya berkata: “Kami bersaksi bahwasannya engkau adalah ‘Uways al-Qarani, mintakanlah ampunan untuk kami, semoga Allah mengampunimu.”
Ia menjawab: “Aku merasa tidak pantas untuk memohon ampun untuk anak cucu Adam (‘alayhis-salam), tetapi di daratan dan lautan (di kapal yang sedang berlayar) ada segolongan laki-laki maupun wanita mu’min (beriman) dan muslim yang doanya diterima.” ‘Umar dan ‘Ali ra berkata: “Sudah pasti kamu yang paling pantas.”
‘Uways berkata: “Wahai kalian berdua, Allah telah membuka (rahasia spiritual) dan memberitahukan keadaaan (kedudukan spiritual)ku kepada kalian berdua, siapakah kalian berdua?” Berkatalah `Ali ra: “Ini adalah ‘Umar ‘Amir al-Mu’minin, sedangkan aku adalah `Ali bin Abi Thalib.” Lalu ‘Uways bangkit dan berkata: “Kesejahteraan, rahmat dan keberkahan Allah bagimu wahai ‘Amir al-Mu’minin, dan kepadamu pula wahai putra ‘Abi Thalib, semoga Allah membalas jasa kalian berdua atas umat ini dengan kebaikan.” Lalu keduanya berkata: “Begitu juga engkau, semoga Allah membalas jasamu dengan kebaikan atas dirimu.”
Lalu ‘Umar ra berkata kepadanya: “Tetaplah di tempatmu hingga aku kembali dari kota Madina dan aku akan membawakan untukmu bekal dari pemberianku dan penutup tubuh dari pakaianku. Di sini tempat aku akan bertemu kembali denganmu.”
Ia berkata: “Tidak ada lagi pertemuan antara aku denganmu wahai ‘Amir al-Mu’minin. Aku tidak akan melihatmu setelah hari ini. Katakan apa yang harus aku perbuat dengan bekal dan baju darimu (jika engkau berikan kepadaku)? Bukankah kau melihat saya (sudah cukup) memakai dua lembar pakaian terbuat dari kulit domba? Kapan kau melihatku merusakkannya! Bukankah kau mengetahui bahwa aku mendapatkan bayaran sebanyak empat dirham dari hasil gembalaku? Kapankah kau melihatku menghabiskannya? Wahai ‘Amir al-Mu’minin, sesungguhnya dihadapanku dan dihadapanmu terdapat bukit terjal dan tidak ada yang bisa melewatinya kecuali setiap (pemilik) hati (bersih-tulus) yang memiliki rasa takut dan tawakal (hanya kepada Allah), maka takutlah (hanya kepada Allah) semoga Allah merahmatimu.”
Ketika ‘Umar ra mendengar semua itu, ia menghentakkan cambuknya di atas tanah. Kemudian ia menyeru dengan suara lantang: “Andai ‘Umar tak dilahirkan oleh ibunya! Andai ibuku mandul tak dapat hamil! Wahai siapa yang ingin mengambil tampuk kekhilafahan ini?” Kemudian ‘Uways berkata: “Wahai ‘Amir al-Mu’minin, ambillah arahmu lewat sini, hingga aku bisa mengambil arah yang lain.” Maka ‘Umar ra berjalan ke arah Madina, sedangkan ‘Uways menggiring unta-untanya dan mengembalikan kepada kaumnya. Lalu ia meninggalkan pekerjaan sebagai penggembala dan pergi ke Kufah dimana ia mengisi hidupnya dengan amal-ibadah hingga kembali menemui Allah.
5. SEPUTAR RAHASIA WALI ALLAH
Terkait
dengan rahasia wali Allah itu, Imam Abu Hamid Muhammad Al Ghazali
menulis sebuah cerita dalam Mukasayafat Al-Qulub. Alkisah, seorang
bangsawan berjalan jalan di pasar budak. Matanya tertarik pada seorang
budak bertubuh kekar. Lalu ia bertanya kepada budak itu, “Maukah kau
bekerja untukku? Aku lihat kau mempunyai keterampilan yang aku
butuhkan”. Dengan tenang budak itu menjawab, “ Aku mau bekerja untuk
siapapun dengan dua syarat.” “Apa itu syaratmu anak muda?”, tanya sang
bangsawan penasaran. “Dua syaratku adalah : pertama, aku hanya bekerja
siang hari, jangan suruh aku bekerja malam hari dan kedua, aku tidak mau
tinggal satu rumah denganmu, beri aku tempat tinggal yang lain.”
Mendengar ini, timbul rasa penasaran di hati bangsawan, ia pun berniat
untuk mempekerjakan budak itu, apalagi si budak memenuhi kriterianya.
Singkat cerita dibawalah budak itu ke rumah sang bangsawan. Ia
diizinkan untuk tinggal di sebuah gubuk di sebelah rumah mewah
bangsawan. Lalu dimulailah hari-hari sang budak bekerja bagi majikan
barunya. Segala sesuatu berjalan apa adanya. Si budak bekerja di siang
hari menjalankan tugas tugasnya sampai majikannya sangat puas
terhadapnya. Ingin rasanya majikan itu memintanya kerja juga di malam
hari walaupun hanya untuk pekerjaan ringan, tetapi ia teringat akan
syarat pertama si budak. Dan ia merasa berkecukupan dengan kerja baik si
budak itu pada siang hari.
Semuanya berjalan lancar sampai pada suatu saat ketika istri si bangsawan merasa ingin memberi hadiah atas kerja keras budak itu. Tanpa sepengetahuan suaminya, malam hari istri bangsawan itu membawakan sesuatu buat si budak. Ia menyelinap masuk ke dalam gubuk. Ia terkejut manakala menemukan budak itu telungkup sujud. Di atasnya bergayut lingkaran putih bercahaya.
Melihat ini, istri bangsawan segera berlari menemui suaminya dan berkata, “Wahai suamiku, sesungguhnya budak itu adalah seorang wali Allah !”. Dengan segera pasangan suami istri itu bergegas menemui si budak. Apa jawab budak itu ketika bertemu mereka ? Ia hanya menjawab singkat, “Bukankah sudah aku minta agar kalian tidak menggangguku di malam hari ?” Lalu ia menengadahkan tangannya ke langit seraya menggumankan sebuah syair yang artinya : “Wahai pemilik rahasia, sesungguhnya rahasia ini sudah terungkap, maka tak kuinginkan lagi hidup ini setelah rahasia ini tersingkap”. Tak lama setelah membacakan syair ini, si budak pun sujud dan menghembuskan nafasnya yang terakhir, meninggalkan suami istri itu dalam keheranan.
Cerita dari Imam Ghazali itu mengantarkan kita kepada beberapa hal, diantaranya bahwa kita sebagai manusia biasa tidak mengetahui begitu saja bahwa seseorang adalah wali Allah dan seseorang yang lain bukan . Menurut para sufi, la ya’rifal-wali illa al-wali, tidak akan mengetahui seorang wali selain wali Tuhan yang lainnya.
Dalam
kisah hikmah dari berbagai buku kita menemukan banyak tokoh yang
ditenggarai sebagai wali Allah dan mampu melakukan hal yang luar biasa,
seperti berjalan melipat bumi atau menempuh jarak yang amat jauh hanya
dengan sekejap mata. Berjalan diatas air, mendapat makanan dari langit,
berbicara dengan binatang buas, tidak terlihat oleh musuh dan lain
sebagainya.
Betulkah
para wali mempunyai karomah dan mampu melakukan hal yang luar biasa ? .
Masih adakah para wali seperti itu dizaman modern ini? Berikut ini kami
sampaikan beberapa artikel tentang Wali Allah yang kami kutip dari
situs www.eryevolutions.co.cc mudah mudahan bisa menambah wawasan kita.
1. WALI ALLAH SIAPAKAH MEREKA ?
Mulyadi – Muhammad Ibnu Anwar
“Ingatlah,
sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap
mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang- orang yang
beriman dan mereka selalu bertakwa.” (QS. Yunus : 62-63).
Ayat
di atas mengandung pengertian bahwa wali Allah (waliyullah) ialah orang
yang beriman dan bertakwa.(lihat Tafsir Ibnu Katsir juz 2 hal 422).
(Wali-wali Allah) ialah orang yang beriman kepada hal yang gaib,
mendirikan salat, menafkahkan sebagian rezeki yang telah Allah
anugerahkan kepadanya. Mereka juga beriman kepada yang diturunkan kepada
Nabi Muhammad SAW (Al-Qur’an) dan yang diturunkan kepada nabi- nabi
sebelum Nabi Muhammad SAW, serta mereka meyakini adanya hari akhir.
Mereka (wali-wali Allah) itu adalah golongan yang mengikuti Nabi
Muhammad SAW (lihat Tafsir Tanwiirul Miqbas, hal 4).
Terhadap
mereka (wali-wali Allah) terkadang tampak karamah ketika sedang
dibutuhkan. Seperti karamah Maryam ketika ia mendapatkan rezeki berupa
makanan di rumahnya (QS.3 : 35) (lihat Firqah an Naajiyah Bab 31).
Maka
wilayah (kewalian) memang ada. Tetapi ia tidak terjadi kecuali pada
hamba yang mukmin, taat dan mengesakan Allah. Adapun karamah tidak
menjadi syarat untuk seseorang disebut sebagai wali Allah, sebab syarat
demikian tidak diberitakan dalam Al Qur’an.
Tingkat
kewalian yang terdapat dalam diri seseorang mukmin sesuai dengan
tingkat keimanannya. Para wali Allah yang paling tinggi tingkat
kewaliannya adalah para nabi, dan diantara para nabi yang paling tinggi
tingkat kewaliannya adalah para rasul, dan diantara para rasul yang
paling tinggi tingkat kewaliaanya adalah rasul ulul azmi, dan diantara
rasul ulul azmi yang paling tinggi tingkat kewaliannya adalah Rasulullah
Muhammad SAW. Maka barangsiapa yang mengaku mencintai Allah dan dekat
dengan-Nya (mengaku sebagai wali Allah), tetapi ia tidak mengikuti sunah
Rasulullah Muhammad SAW, maka sebenarnya ia bukanlah wali Allah tetapi
musuh Allah dan wali setan (lihat Al Furqan, hal 6) .
Apa
yang tampak pada sebagian ahli bid’ah seperti memukul-mukulkan besi ke
perut, memakan api dan sebagainya dengan tidak menimbulakn cedera
apapun, maka itu adalah dari perbuatan setan. Hal yang demikian bukanlah
karamah tetapi istidraaj agar mereka semakin jauh tenggelam dalam
kesesatan (lihat Firqah an Najitaah Bab 31).
Mengenai
hal tersebut, Asy Syeikh Hasyim Al Asy’ari r.a. (tokoh pendiri
Nahdlatul Ulama, NU) berkata : “Barangsiapa yang mengaku sebagai wali
Allah tanpa mengikuti sunah, maka pengakuannya adalah kebohongan.” (Ad
Durar Al Muntasirah, hal 4)
Apa
yang dikatakan oleh Asy Syeikh Hasyim Al Asy’ari di atas diperkuat
dengan perkataan Imam Asy Syafi’I r.a. : “Jika kalian melihat seseorang
yang mampu berjalan di atas air dan terbang di angkasa, maka janganlah
kalian tertipu olehnya, sehingga kalian serahkan urusannya kepada Al
Qur’an (dan As Sunah)*.”(lihat Syarah Al Aqidah Ath Thahawiyah hal 573)
*Maksudnya jika tingkah laku sehari- hari orang tersebut sesuai dengan
dengan Al Qur’an dan As Sunah, maka ia adalah seorang wali Allah, tetapi
jika tidak sesuai, maka ia adalah seorang wali setan. pen.
Menurut
persepsi kebanyak orang, wali adalah orang yang mengetahui ilmu gaib.
Padahal ilmu gaib sesuatu yang hanya Allah sendiri yang mengetahuinya.
Memang terkadang hal itu ditampakan pada sebagian Rasul-Nya, jika Dia
menghendakinya (QS Al Jin : 26-27).
Sebagian
orang lagi menyangka bahwa setiap kuburan yang dibangun di atasnya
kubah adalah wali. Padahal bisa jadi kuburan tersebut di dalamnya adalah
orang fasik, atau bahkan mungkin tad ada manusia yang dikubur di
dalamnya.
Seorang
wali bukanlah yang dikuburkan di dalam masjid atau yang dibangun di
atasnya suatu bangunan atau kubah. Hal itu justru melanggar syari’at
Islam, bahkan Rasulullah SAW melarang mengkapur kuburan atau dibangun
sesuatu di atasnya (HR. Muslim) (lihat Firqah an Naajiyah Bab 31)
Kesimpulan :
Semua orang yang beriman adalah wali Allah, dan di dalam diri setiap orang yang beriman terdapat tingkat kewalian sesuai dengan tingkat keimanannya. (lihat Mujmal Ushul Ahlissunnah wal Jamaah fi Al Aqidah, pasal 2).
Semua orang yang beriman adalah wali Allah, dan di dalam diri setiap orang yang beriman terdapat tingkat kewalian sesuai dengan tingkat keimanannya. (lihat Mujmal Ushul Ahlissunnah wal Jamaah fi Al Aqidah, pasal 2).
Posting Milis (MediaKita)Manajemen Qolbu No 45
1. Jika melihat mereka, akan mengingatkan kita kepada Allah swt.
Dari Amru Ibnul Jammuh, katanya:
“Ia pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: “Allah berfirman:
“Sesungguhnya hamba-hambaKu, wali-waliKu adalah orang-orang yang Aku
sayangi. Mereka selalu mengingatiKu dan Akupun mengingai mereka.”Dari Amru Ibnul Jammuh, katanya:
Dari Said ra, ia berkata:
“Ketika Rasulullah saw ditanya: “Siapa wali-wali Allah?” Maka beliau bersabda: “Wali-wali Allah adalah orang-orang yang jika dilihat dapat mengingatkan kita kepada Allah.”
2. Jika mereka tiada, tidak pernah orang mencarinya.
Dari Abdullah Ibnu Umar Ibnu Khattab, katanya:
10 Hadis riwayat Abu Daud dalam Sunannya dan Abu Nu’aim dalam Hilya jilid I hal. 6
Hadis riwayat Ibnu Abi Dunya di dalam kitab Auliya’ dan Abu Nu’aim di dalam Al Hilya Jilid I hal 6).
“Pada suatu kali Umar mendatangi tempat Mu’adz ibnu Jabal ra, kebetulan ia sedang menangis, maka Umar berkata: “Apa yang menyebabkan engkau menangis, wahai Mu’adz?” Kata Mu’adz: “Aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: “Orang-orang yang paling dicintai Allah adalah mereka yang bertakwa yang suka menyembunyikan diri, jika mereka tidak ada, maka tidak ada yang mencarinya, dan jika mereka hadir, maka mereka tidak dikenal. Mereka adalah para imam petunjuk dan para pelita ilmu.”
3. Mereka bertakwa kepada Allah.
Allah swt berfirman:
“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhuwatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati Mereka itu adalah orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa.. Dan bagi mereka diberi berita gembira di dalam kehidupan dunia dan akhirat”13
Abul Hasan As Sadzili pernah berkata: “Tanda-tanda kewalian seseorang adalah redha dengan qadha, sabar dengan cubaan, bertawakkal dan kembali kepada Allah ketika ditimpa bencana.”
4. Mereka saling menyayangi dengan sesamanya.
Dari Umar Ibnul Khattab ra berkata:
Hadis riwayat Nasa’i, Al Bazzar dan Abu Nu’aim di dalam Al Hilyah jilid I hal. 6
Surah Yunus: 62 – 64
Hadisriwayat.Al Mafakhiril ‘Aliyah hal 104
“Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya sebahagian hamba Allah ada orang-orang yang tidak tergolong dalam golongan para nabi dan para syahid, tetapi kedua golongan ini ingin mendapatkan kedudukan seperti kedudukan mereka di sisi Allah.” Tanya seorang: “Wahai Rasulullah, siapakah mereka dan apa amal-amal mereka?” Sabda beliau: “Mereka adalah orang-orang yang saling kasih sayang dengan sesamanya, meskipun tidak ada hubungan darah maupun harta di antara mereka. Demi Allah, wajah mereka memancarkan cahaya, mereka berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya, mereka tidak akan takut dan susah.” Kemudian Rasulullah saw membacakan firman Allah yang artinya: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.”
5. Mereka selalu sabar, wara’ dan berbudi pekerti yang baik.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra bahwa”Rasulullah saw bersabda:
Hadis riwayat Abu Nu’aim dalam kitab Al Hilya jilid I, hal 5
“Ada tiga sifat yang jika dimiliki oleh seorang, maka ia akan menjadi wali Allah, iaitu: pandai mengendalikan perasaannya di saat marah, wara’ dan berbudi luhur kepada orang lain.”
Rasulullah saw bersabda: “Wahai Abu Hurairah, berjalanlah engkau seperti segolongan orang yang tidak takut ketika manusia ketakutan di hari kiamat. Mereka tidak takut siksa api neraka ketika manusia takut. Mereka menempuh perjalanan yang berat sampai mereka menempati tingkatan para nabi. Mereka suka berlapar, berpakaian sederhana dan haus, meskipun mereka mampu. Mereka lakukan semua itu demi untuk mendapatkan redha Allah. Mereka tinggalkan rezeki yang halal kerana akan amanahnya. Mereka bersahabat dengan dunia hanya dengan badan mereka, tetapi mereka tidak tertipu oleh dunia. Ibadah mereka menjadikan para malaikat dan para nabi sangat kagum. Sungguh amat beruntung mereka, alangkah senangnya jika aku dapat bertemu dengan mereka.” Kemudian Rasulullah saw menangis kerana rindu kepada mereka. Dan beliau bersabda: “Jika Allah hendak menyiksa penduduk bumi, kemudian Dia melihat mereka, maka Allah akan menjauhkan siksaNya. Wahai Abu Hurairah, hendaknya engkau menempuh jalan mereka, sebab siapapun yang menyimpang dari penjalanan mereka, maka ia akan mendapati siksa yang berat.”
6. Mereka selalu terhindar ketika ada bencana.
Dari Ibnu Umar ra, katanya:
“Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah mempunyai hamba-hamba yang diberi makan dengan rahmatNya dan diberi hidup dalam afiyahNya, jika Allah mematikan mereka, maka mereka akan dimasukkan ke dalam syurgaNya. Segala bencana yang tiba akan lenyap secepatnya di hadapan mereka, seperti lewatnya malam hari di hadapan mereka, dan mereka tidak terkena sedikitpun oleh bencana yang datang.”
Rujukan:-
Hadis riwayat Ibnu Abi Dunya di dalam kitab Al Auliya’
Hadis riwayat Abu Hu’aim dalam kitab Al Hilya
Hadis riwayat Abu Nu’aim dalam kitab Al Hilya jilid I hal 6
8. Hati mereka selalu terkait kepada Allah.
Imam Ali Bin Abi Thalib berkata kepada Kumail An Nakha’i: “Bumi ini tidak akan kosong dari hamba-hamba Allah yang menegakkan agama Allah dengan penuh keberanian dan keikhlasan, sehingga agama Allah tidak akan punah dari peredarannya.. Akan tetapi, berapakah jumlah mereka dan dimanakah mereka berada? Kiranya hanya Allah yang mengetahui tentang mereka. Demi Allah, jumlah mereka tidak banyak, tetapi nilai mereka di sisi Allah sangat mulia. Dengan mereka, Allah menjaga agamaNya dan syariatNya, sampai dapat diterima oleh orang-orang seperti mereka. Mereka menyebarkan ilmu dan ruh keyakinan. Mereka tidak suka kemewahan, mereka senang dengan kesederhanaan. Meskipun tubuh mereka berada di dunia, tetapi rohaninya membumbung ke alam malakut. Mereka adalah khalifah-khalifah Allah di muka bumi dan para da’i kepada agamaNya yang lurus. Sungguh, betapa rindunya aku kepada mereka.”
9. Mereka senang bermunajat di akhir malam.
Imam Ghazali menyebutkan: “Allah pernah memberi ilham kepada para siddiq: “Sesungguhnya ada hamba-hambaKu yang mencintaiKu dan selalu merindukan Aku dan Akupun demikian. Mereka suka mengingatiKu dan memandangKu dan Akupun demikian. Jika engkau menempuh jalan mereka, maka Aku mencintaimu. Sebaliknya, jika engkau berpaling dari jalan mereka, maka Aku murka kepadamu. ” Tanya seorang siddiq: “Ya Allah, apa tanda-tanda mereka?” Firman Allah: “Di siang hari mereka selalu menaungi diri mereka, seperti seorang pengembala yang menaungi kambingnya dengan penuh kasih sayang, mereka merindukan terbenamnya matahari, seperti burung merindukan sarangnya. Jika malam hari telah tiba tempat tidur telah diisi oleh orang-orang yang tidur dan setiap kekasih telah bercinta dengan kekasihnya, maka mereka berdiri tegak dalam solatnya. Mereka merendahkan dahi-dahi mereka ketika bersujud, mereka bermunajat, menjerit, menangis, mengadu dan memohon kepadaKu. Mereka berdiri, duduk, ruku’, sujud untukKu. Mereka rindu dengan kasih sayangKu. Mereka Aku beri tiga kurniaan: Pertama, mereka Aku beri cahayaKu di dalam hati mereka, sehingga mereka dapat menyampaikan ajaranKu kepada manusia. Kedua, andaikata langit dan bumi dan seluruh isinya ditimbang dengan mereka, maka mereka lebih unggul dari keduanya. Ketiga, Aku hadapkan wajahKu kepada mereka. Kiranya engkau akan tahu, apa yang akan Aku berikan kepada mereka?”
Rujukan:-
Nahjul Balaghah hal 595 dan Al Hilya jilid 1 hal.. 80
Ihya’ Ulumuddin jilid IV hal 324 dan Jilid I hal 358
10. Mereka suka menangis dan mengingat Allah.
‘Iyadz ibnu Ghanam menuturkan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: “Malaikat memberitahu kepadaku: “Sebaik-baik umatku berada di tingkatan-tingkatan tinggi. Mereka suka tertawa secara terang, jika mendapat nikmat dan rahmat dari Allah, tetapi mereka suka menangis secara rahsia, kerana mereka takut mendapat siksa dari Allah. Mereka suka mengingat Tuhannya di waktu pagi dan petang di rumah-rumah Tuhannya. Mereka suka berdoa dengan penuh harapan dan ketakutan. Mereka suka memohon dengan tangan mereka ke atas dan ke bawah. Hati mereka selalu merindukan Allah. Mereka suka memberi perhatian kepada manusia, meskipun mereka tidak dipedulikan orang. Mereka berjalan di muka bumi dengan rendah hati, tidak congkak, tidak bersikap bodoh dan selalu berjalan dengan tenang. Mereka suka berpakaian sederhana. Mereka suka mengikuti nasihat dan petunjuk Al Qur’an. Mereka suka membaca Al Qur’an dan suka berkorban. Allah suka memandangi mereka dengan kasih sayangNya. Mereka suka membahagikan nikmat Allah kepada sesama mereka dan suka memikirkan negeri-negeri yang lain. Jasad mereka di bumi, tapi pandangan mereka ke atas. Kaki mereka di tanah, tetapi hati mereka di langit. Jiwa mereka di bumi, tetapi hati mereka di Arsy. Roh mereka di dunia, tetapi akal mereka di akhirat. Mereka hanya memikirkan kesenangan akhirat. Dunia dinilai sebagai kubur bagi mereka. Kubur mereka di dunia, tetapi kedudukan mereka di sisi Allah sangat tinggi. Kemudian beliau menyebutkan firman Allah yang artinya: “Kedudukan yang setinggi itu adalah untuk orang-orang yang takut kepada hadiratKu dan yang takut kepada ancamanKu.”
11. Jika mereka berkeinginan, maka Allah memenuhinya.
Dari Anas ibnu Malik ra berkata: “Rasul saw bersabda: “Berapa banyak manusia lemah dan dekil yang selalu dihina orang, tetapi jika ia berkeinginan, maka Allah memenuhinya, dan Al Barra’ ibnu Malik, salah seorang di antara mereka.”
Ketika Barra’ memerangi kaum musyrikin, para sahabat: berkata: “Wahai Barra’, sesungguhnya Rasulullah saw pernah bersabda: “Andaikata Barra’ berdoa, pasti akan terkabul. Oleh kerana itu, berdoalah untuk kami.” Maka Barra’ berdoa, sehingga kami diberi kemenangan.
Di medan peperangan Sus, Barra’ berdo’a: “Ya Allah, aku mohon, berilah kemenangan kaum Muslimin dan temukanlah aku dengan NabiMu.” Maka kaum Muslimin diberi kemenangan dan Barra’ gugur sebagai syahid.
Rujukan:-
Hadis riwayat Abu Nu’aim dalam Hilya jilid I, hal 16
12. Keyakinan mereka dapat menggoncangkan gunung.
Abdullah ibnu Mas’ud pernah menuturkan:
“Pada suatu waktu ia pernah membaca firman Allah: “Afahasibtum annamaa khalaqnakum ‘abathan”, pada telinga seorang yang pengsan. Maka dengan izin Allah, orang itu segera sedar, sehingga Rasuulllah saw bertanya kepadanya: “Apa yang engkau baca di telinga orang itu?” Kata Abdullah: “Aku tadi membaca firman Allah: “Afahasibtum annamaa khalaqnakum ‘abathan” sampai akhir surah.” Maka Rasul saw bersabda: “Andaikata seseorang yakin kemujarabannya dan ia membacakannya kepada suatu gunung, pasti gunung itu akan hancur.”
- Hadis riwayat Abu Nu’aim dalam Al Hilya jilid I hal 7
3. HAKIKAT SAKIT SEORANG WALI ALLAH
Suatu
hari aku berziarah kepada Guruku. Saat itu Beliau sedang terbaring di
opname dirumah sakit. Bersyukur sekali dalam kedaan darurat aku di
izinkan untuk langsung bertemu Beliau. Aku masih ingat saat itu aku
menangis lama melihat Guruku yang selama ini gagah dan sehat terbaring
lemah di kamar rumah sakit. Aku masuk kekamar dengan pelan agar tidak
mengganggu istrahat Beliau. Beliau melirik ke arahku dan berkata:
“Kapan kau datang?”
“Baru 1 jam yang lalu Guru”
Kemudian
Beliau menatap langit-langit kamar seakan ingin mengatakan sesuatu tapi
tidak sempat keluar dari mulut Beliau. Dalam hatiku berkata, bagaimana
mungkin seorang wali Allah bisa sakit, padahal segala jenis penyakit
sembuh berkat doa dan syafaat Beliau. Saat aku sedang mengucapkan itu
dalam hati, kemudia Beliau menoleh kepadaku dan berkata:
“Sufi
Muda, rohani Gurumu itu tidak pernah sakit karena dia berasal dari Yang
Maha Sehat dan akan terus mengalirkan syafaat serta terus menerus
menyalurkan rahmat dan karunia Allah lewat dadanya, akan tetapi fisik
Gurumu akan tunduk kepada Firman Afaqi sesuai dengan hukum-hukum alam
yang telah ditetapkan Tuhan. Salah satu sifat dari Nabi adalah HARUS dia
seperti manusia biasa. Kalau Nabi terkena api harus dirasakan panas
seperti layaknya manusia begitu juga kalau nabi berjalan di tengah malam
akan merasakan dingin. Begitu juga berlaku kepada wali-Nya, akan tunduk
kepada hukum alam ini. Sifat HARUS seperti manusia itu juga salah satu
cara Tuhan menyembunyikan Kekasih-Nya dari pandangan dunia ini.
Junjungan kita Nabi Muhammad SAW berani dilempari kotoran unta
dikarenakan orang kafir terhijab oleh hijab Insani”.
Aku
hanya diam di sudut ranjang, menatap mata Guru yang amat aku sayangi
dan setiap pertemuan aku dengan Guruku selalu aku rasakan hal baru yang
sangat sulit diungkapkan dengan kata-kata. Benar sekali apa yang
dikemukan oleh para sufi bahwa bertemu dengan Guru Mursyid itu adalah
satu karunia Allah yang sangat besar. Saat menatap mata Beliau
seakan-akan ruhani ini terbawa melayang langsung ke Alam Rabbani. Salah
satu hadab bertemu dengan Guru adalah tidak diperkenankan kita banyak
berbicara dan baiknya hanya mendengar dan ketika ditanya oleh Guru
haruslah menjawabnya dengan bahasa yang sopan dan dalam hati terlebih
dahulu harus memperbanyak Istikhfar, memohon ampun kepada-Nya agar dalam
mengucapkan kata-kata kepada Guru nanti tidak disusupi oleh nafsu dan
setan.
Dalam
hatiku kembali timbul pertanyaan, bukankah Guru bisa berdoa kepada
Allah agar disembuhkan dari penyakit ini? Sebagai Wali Allah tentu saja
Beliau bisa mendengar suara hatiku, tiba-tiba guruku berkata, “Tidak seperti itu Sufimuda….”
“Pernahkah kau mendengar kisah tentang Nabi Ayyub?”
“Pernah Guru”
“Apa yang kau ketahui tentang Nabi Ayyub?”
“Nabi Ayyub adalah nabi yang paling banyak mengalami sakit, Guru” jawabku.
Kemudian Beliau dengan senyum berkata, “Nabi
Ayyub, sakit-sakitan dia, kemudian dia berdoa kepada Allah, ‘Ya Allah
sembuhkanlah penyakitku ini’, kemudian Allah berfirman, ‘Apa kau ucapkan
Ayyub?’ nabi Ayyyub kembali mengulang do’anya: ‘tolong sembuhkanlah
penyakitku ini’ dengan marah Tuhan berkata kepada Nabi Ayyub: ‘Hai
Ayyub, sekali lagi kau berdo’a seperti itu aku tampar engkau nanti’
Kemudian dengan polosnya nabi Ayyub bertanya kepada Allah: ‘Ya Allah,
berarti engkau senang kalau aku sakit?’ dengan tegas Allah menjawab:
‘Ya, Aku senang kau sakit’. Setelah Nabi Ayyub tahu Tuhan senang kalau
dia sakit maka diapun dengan senang menjalani sakitnya itu. Setiap dia
mau ambil wudhuk dia pindahkan ulat yang ada di badannya dan setelah
selesai beribadah kembali diambil ulat tadi diletakkan di badannya
sambil berkata kepadda ulat, ‘hai ulat, kembali kau kesini, Tuhan senang
aku sakit’. Begitulah yang dialami nabi Ayyub, maka Gurumu ada
persamaan seperti itu”.
Sambil minum segelas air putih kembali Beliau berkata kepadaku, “Aku
sudah berjanji kepada Tuhan agar terus memuja-Nya dan berdakwah,
makanya setiap aku cerita tentang Tuhan maka badanku terasa enak”.
“Sufi Muda….”
“Saya Guru…”
“Suatu
saat nanti kau pasti tahu kenapa aku sakit, silahkan baca dan renungi 2
ayat terakhir dari surat at-Taubah, disana kau menemukan jawabannya.
Bacalah Laqadjaakum dengan pelan dan mesra jangan seperti burung beo
yang tidak pernah tahu makna dari ucapannya”.
Kemudian Beliau membacakan surat at-Taubah sambil menangis, “Laqadjaakum Rasulun min anfusikum, azizun alaihi ma anittum, harisun alaikum bil mukminina raufur rahim….”
Aku
merasakan dadaku bergemuruh dan berguncang hebat mendengar ayat yang
Beliau bacakan. Serasa rontok dada ini, dan seluruh tubuh berguncang
hebat, aku menangis dengan sejadi-jadinya. Apalagi Beliau membacakan
arti ayat tersebut, “…. Berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat
menginginkan keimanan dan keselamatan, amat belas kasihan lagi penyayang
terhadap orang-orang mukmin….”
Sungguh
lama aku tenggelam dalam tangisan sambil menatap wajah Guruku yang
mulia. Firman Allah yang dibacakan oleh kekasih Allah sangat berbeda
dengan ayat Allah yang dibacakan oleh pada umumnya orang. Benar seperti
yang dikemukan oleh Para Syekh Besar bahwa apabila Wali-Nya membacakan
ayat-Nya pastilah Dia hadir menyertai bacaan Kekasih-Nya.
Aku
memangis menyesali diri yang selama ini hanya menjadi beban Guru, hanya
bisa meminta tapi belum bisa memberi, hanya bisa membebani belum bisa
berbhakti, hanya mementingkan diri sendiri tanpa mau peduli, hanya
mengharapkan kasih sayang tanpa mau menyayangi.
“Sufi Muda….”
“Saya Guru…”
“Jangan
pernah engkau patah semangat kalau melihat Gurumu seperti ini, seluruh
dokter di dunia ini tidak akan bisa menyembuhkan sakitku ini. Tuhan
ingin menunjukkan kebesaran-Nya. Dan Tuhan sekarang sedang bekerja ke
arah sana. Yang kau lihat keramat dan gagah dalam nyata dan mimpimu itu
bukanlah aku, tapi itu adalah pancarahan dari Nur Ilahi. Aku hanyalah
seorang hamba yang tiada berdaya. Muridku….yang Hebat itu Tuhan saja”
Kemudian Beliau membacakan surat Al-Mujaadilah ayat 21: “Kataballahu
La Aghlibanna anaa wa rusulii, innallahaa qawiyum ‘azii zun (Allah
telah menetapkan, bahwa tiada kamus kalah bagi Ku dan rasul-rasul-Ku.
Sesungguhnya Allah Maha Kuat dan Maha Gagah”.
Ketika aku berpamitan sambil mencium tangannya
Barulah
aku tahu bahwa sakit seorang Wali itu bukan sakit biasa akan tetapi
sakit karunia. Sakit menanggung beban dari orang-orang yang selalu
bersamanya bahkan beban dunia ini. Seminggu kemudian Beliau sembuh,
sehat wal afiat bahkan lebih sehat seperti sebelumnya. Terimakasih Tuhan
atas berkenannya Engkau mengabulkan do’aku sehingga Guruku sehat
kembali.
Ya Tuhan,
Berilah
panjang umur dan kesehatan kepada Guruku agar beliau lebih lama lagi
membimbing dan menuntun aku yang bodoh dan dungu ini ke jalan-Mu yang
Maha lurus.
Ya Tuhan,
Andai
masih ada karunia berupa kesenangan dunia yang kelak akan Engkau
berikan sepanjang hidupku, berikanlah kesenangan itu kepada Guruku agar
Beliau selalu bahagia dan sejahtera.
Ya Tuhan,
Jadikanlah
aku orang yang selalu bisa merasakan apa yang dirasakan Guruku,
senyumnya menjadi senyumku, deritanya menjadi deritaku, kepedihannya
menjadi kepedihanku agar aku bisa mengerti makna dan tujuan hidup di
dunia ini.
Ya Tuhan,
Jangan
engkau memasukkan aku kedalam orang-orang yang merasa dekat kepada
kekasih-Mu yang tanpa sadar justru lebih banyak menyakiti hatinya.
Janganlah aku menyayangi kekasih-Mu seperti sayangnya anak kecil kepada
seekor kuncing yang terus menerus didekap dalam pelukannya sehingga
kucing itu sulit bernafas dan akhirnya mati. Jadikanlah rasa sayangku
kepada Guruku sebagaimana Ia ingin disayang.
Ya Tuhan,
Ajari aku yang bodoh, lemah dan tiada berdaya ini untuk bisa mencintai kekasih-Mu sebagaimana ia ingin dicintai.
Ya Tuhan,
Izinkanlah aku bisa terus bersama kekasih-Mu dan bisa melayaninya dengan baik.
Ya Tuhan
Perkenankanlah doaku ini….
Koeta Radja, 9 Maret ’09
4. ‘UWAIYS AL – QARANI – WALI ALLAH YANG TERSEMBUNYI
“Wali-Wali
Allah tidak berkata: ‘ikuti saya’ tapi berkata: ‘Ikuti Allah dan
Rasul-Nya!’ Siapa yang terbuka hatinya mengikuti mereka.
Wali-Wali Allah tersembunyi, bukan fisiknya tapi Maqom Spiritualnya
[tersembunyi] dari orang-orang yang buta matahatinya.
Banyak yang ingin mendekati Allah tapi menjauhi para wali-Nya.
Pemuka para wali adalah para Nabi dan Sahabat Rasulullah Saw.
Sultan para wali adalah Nabiyur-Rahmah Muhammad Saw.
yang melalui beliau mengalir ilmu-ilmu Hakikat Allah
dari “hati spiritual” ke “hati spiritual” para hamba-Nya yang mukhlisin.”
- Dikutip dari kata-kata mutiara Wiyoso Hadi -
Disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurayrah ra, bahwa
Rasulullah SAW (ShollaLlahu ‘Alayhi Wassalam) bersabda: “Sesungguhnya
Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Tinggi mencintai di antara makhluk-Nya
orang-orang pilihan, (mereka) tersembunyi, taat, rambut mereka
acak-acakan, wajah mereka berdebu dan perut mereka kelaparan. Jika
meminta izin kepada pemimpin ditolak. Jika melamar wanita cantik tidak
diterima. Jika mereka tak hadir tak ada yang kehilangan dan jika hadir
tak ada yang merasa bahagia atas kehadirannya. Jika sakit tak ada yang
mengunjunginya dan jika mati tak ada yang menyaksikan jenazahnya.”
Wali-Wali Allah tersembunyi, bukan fisiknya tapi Maqom Spiritualnya[tersembunyi] dari orang-orang yang buta matahatinya.
Banyak yang ingin mendekati Allah tapi menjauhi para wali-Nya.
Pemuka para wali adalah para Nabi dan Sahabat Rasulullah Saw.
Sultan para wali adalah Nabiyur-Rahmah Muhammad Saw.
yang melalui beliau mengalir ilmu-ilmu Hakikat Allah
dari “hati spiritual” ke “hati spiritual” para hamba-Nya yang mukhlisin.”
- Dikutip dari kata-kata mutiara Wiyoso Hadi -
Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, contohkan pada kami salahsatu dari mereka?” Beliau SAW menjawab: “Itulah ‘Uways al-Qarani.” Para sahabat bertanya kembali: “Seperti apakah ‘Uways al-Qarani?” Beliau SAW menjawab: “Matanya berwarna hitam kebiru-biruan, rambutnya pirang, pundaknya bidang, postur tubuhnya sedang, warna kulitnya mendekati warna tanah (coklat-kemerahan), janggutnya menyentuh dada (karena kepalanya sering tertunduk hingga janggutnya menyentuh dada), pandangannya tertuju pada tempat sujud, selalu meletakkan tangan kanannya di atas tangan kiri, menangisi (kelemahan) dirinya, bajunya compang-camping tak punya baju lain, memakai sarung dan selendang dari bulu domba, tidak dikenal di bumi namun dikenal oleh penduduk langit, jika bersumpah (berdo’a) atas nama Allah pasti akan dikabulkan. Sesungguhnya di bawah pundak kirinya terdapat belang putih. Sesungguhnya kelak di hari kiamat, diserukan pada sekelompok hamba, “Masukklah ke dalam surga!” Dan diserukan
kepada ‘Uways, “Berhenti, dan berikanlah syafa’at!” Maka Allah memberikan syafa’at sebanyak kabilah Rabi’ah dan Mudhar.”
“Wahai ‘Umar, wahai `Ali! Jika kalian berdua menemuinya, mintalah padanya agar memohonkan ampun bagi kalian berdua, niscaya Allah akan mengampuni kalian berdua.” Maka mereka berdua mencarinya selama sepuluh tahun tetapi tidak berhasil. Ketika di akhir tahun sebelum wafatnya, ‘Umar ra berdiri di gunung Abu Qubais, lalu berseru dengan suara lantang: “Wahai penduduk Yaman, adakah di antara kalian yang bernama ‘Uways?”
Bangkitlah seorang tua yang berjenggot panjang, lalu berkata: “Kami tidak tahu ‘Uways yang dimaksud. Kemenakanku ada yang bernama ‘Uways, tetapi ia jarang disebut-sebut, sedikit harta, dan seorang yang paling hina untuk kami ajukan ke hadapanmu. Sesungguhnya ia hanyalah penggembala unta-unta kami, dan orang yang sangat rendah (kedudukan sosialnya) di antara kami. Demi Allah tak ada orang yang lebih bodoh, lebih gila (lebih aneh/nyentrik), dan lebih miskin daripada dia.”
Maka, menangislah ‘Umar ra, lalu beliau berkata: “Hal itu (kemiskinan & kebodohan spiritual) ada padamu, bukan padanya. Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Kelak akan masuk surga melalui syafa’atnya sebanyak kabilah Rabi`ah dan Mudhar.” Maka ‘Umar pun memalingkan pandangan matanya seakan-akan tidak membutuhkannya, dan berkata: Dimanakah kemenakanmu itu!? Apakah ia ada di tanah haram ini?” “Ya,” jawabnya. Beliau bertanya: “Dimanakah tempatnya?” Ia menjawab: “Di bukit ‘Arafat.” Kemudian berangkatlah ‘Umar dan ‘Ali ra dengan cepat menuju bukit ‘Arafat. Sampai di sana, mereka mendapatkannya dalam keadaan sedang shalat di dekat pohon dan unta yang digembalakannya di sekitarnya. Mereka mendekatinya, dan berkata: “Assalamu’alayka wa rahmatullah wa barakatuh.” ‘Uways mempercepat shalatnya dan menjawab salam mereka.
Mereka berdua bertanya: “Siapa engkau?” Ia menjawab: “Penggembala unta dan buruh suatu kaum.” Mereka berdua berkata: “Kami tidak bertanya kepadamu tentang gembala dan buruh, tetapi siapakah namamu?” Ia menjawab: ” `Abdullah (hamba Allah).” Mereka berdua berkata: “Kami sudah tahu bahwa seluruh penduduk langit dan bumi adalah hamba Allah, tetapi siapakah nama yang diberikan oleh ibumu?” Ia menjawab: “Wahai kalian berdua, apakah yang kalian inginkan dariku?”
Mereka berdua menjawab: “Nabi SAW menyifatkan kepada kami seseorang yang bernama ‘Uways al-Qarani. Kami sudah mengetahui akan rambut yang pirang dan mata yang berwarna hitam kebiru-biruan. Beliau SAW memberitahukan kepada kami bahwa di bawah pundak kirinya terdapat belang putih. Tunjukkanlah pada kami, kalau itu memang ada padamu, maka kaulah orangnya. Maka ia menunjukkan kepada mereka berdua pundaknya yang ternyata terdapat belang putih itu. Mereka berdua melihatnya seraya berkata: “Kami bersaksi bahwasannya engkau adalah ‘Uways al-Qarani, mintakanlah ampunan untuk kami, semoga Allah mengampunimu.”
Ia menjawab: “Aku merasa tidak pantas untuk memohon ampun untuk anak cucu Adam (‘alayhis-salam), tetapi di daratan dan lautan (di kapal yang sedang berlayar) ada segolongan laki-laki maupun wanita mu’min (beriman) dan muslim yang doanya diterima.” ‘Umar dan ‘Ali ra berkata: “Sudah pasti kamu yang paling pantas.”
‘Uways berkata: “Wahai kalian berdua, Allah telah membuka (rahasia spiritual) dan memberitahukan keadaaan (kedudukan spiritual)ku kepada kalian berdua, siapakah kalian berdua?” Berkatalah `Ali ra: “Ini adalah ‘Umar ‘Amir al-Mu’minin, sedangkan aku adalah `Ali bin Abi Thalib.” Lalu ‘Uways bangkit dan berkata: “Kesejahteraan, rahmat dan keberkahan Allah bagimu wahai ‘Amir al-Mu’minin, dan kepadamu pula wahai putra ‘Abi Thalib, semoga Allah membalas jasa kalian berdua atas umat ini dengan kebaikan.” Lalu keduanya berkata: “Begitu juga engkau, semoga Allah membalas jasamu dengan kebaikan atas dirimu.”
Lalu ‘Umar ra berkata kepadanya: “Tetaplah di tempatmu hingga aku kembali dari kota Madina dan aku akan membawakan untukmu bekal dari pemberianku dan penutup tubuh dari pakaianku. Di sini tempat aku akan bertemu kembali denganmu.”
Ia berkata: “Tidak ada lagi pertemuan antara aku denganmu wahai ‘Amir al-Mu’minin. Aku tidak akan melihatmu setelah hari ini. Katakan apa yang harus aku perbuat dengan bekal dan baju darimu (jika engkau berikan kepadaku)? Bukankah kau melihat saya (sudah cukup) memakai dua lembar pakaian terbuat dari kulit domba? Kapan kau melihatku merusakkannya! Bukankah kau mengetahui bahwa aku mendapatkan bayaran sebanyak empat dirham dari hasil gembalaku? Kapankah kau melihatku menghabiskannya? Wahai ‘Amir al-Mu’minin, sesungguhnya dihadapanku dan dihadapanmu terdapat bukit terjal dan tidak ada yang bisa melewatinya kecuali setiap (pemilik) hati (bersih-tulus) yang memiliki rasa takut dan tawakal (hanya kepada Allah), maka takutlah (hanya kepada Allah) semoga Allah merahmatimu.”
Ketika ‘Umar ra mendengar semua itu, ia menghentakkan cambuknya di atas tanah. Kemudian ia menyeru dengan suara lantang: “Andai ‘Umar tak dilahirkan oleh ibunya! Andai ibuku mandul tak dapat hamil! Wahai siapa yang ingin mengambil tampuk kekhilafahan ini?” Kemudian ‘Uways berkata: “Wahai ‘Amir al-Mu’minin, ambillah arahmu lewat sini, hingga aku bisa mengambil arah yang lain.” Maka ‘Umar ra berjalan ke arah Madina, sedangkan ‘Uways menggiring unta-untanya dan mengembalikan kepada kaumnya. Lalu ia meninggalkan pekerjaan sebagai penggembala dan pergi ke Kufah dimana ia mengisi hidupnya dengan amal-ibadah hingga kembali menemui Allah.
5. SEPUTAR RAHASIA WALI ALLAH
Inna
auliya allahi la khaufun ‘alaihim walaa hum yahzanuun. Begitulah
penegasan Allah tentang hakekat jiwa para wali, bahwa mereka tidak akan
dirundung takut dan sedih. Tak heran bila kita melihat perjalanan hidup
para wali sanga dan para wali jaman mutakhir, semisal KH Moch. Cholil
Bangkalan, KH Abdul Hamid Pasuruan, KH Chamin Jasuli (Gus Mik) dan
beberapa auliya’ lainnya, mereka tidak kenal rasa takut dan sedih, sebab
hidup dan mati mereka memang untuk dan bagi Allah semata. Hanya saja,
bagaimanapun dunia wali adalah dunia penuh rahasia.
Terkait
dengan rahasia wali Allah itu, Imam Abu Hamid Muhammad Al Ghazali
menulis sebuah cerita dalam Mukasayafat Al-Qulub. Alkisah, seorang
bangsawan berjalan jalan di pasar budak. Matanya tertarik pada seorang
budak bertubuh kekar. Lalu ia bertanya kepada budak itu, “Maukah kau
bekerja untukku? Aku lihat kau mempunyai keterampilan yang aku
butuhkan”. Dengan tenang budak itu menjawab, “ Aku mau bekerja untuk
siapapun dengan dua syarat.” “Apa itu syaratmu anak muda?”, tanya sang
bangsawan penasaran. “Dua syaratku adalah : pertama, aku hanya bekerja
siang hari, jangan suruh aku bekerja malam hari dan kedua, aku tidak mau
tinggal satu rumah denganmu, beri aku tempat tinggal yang lain.”
Mendengar ini, timbul rasa penasaran di hati bangsawan, ia pun berniat
untuk mempekerjakan budak itu, apalagi si budak memenuhi kriterianya.Semuanya berjalan lancar sampai pada suatu saat ketika istri si bangsawan merasa ingin memberi hadiah atas kerja keras budak itu. Tanpa sepengetahuan suaminya, malam hari istri bangsawan itu membawakan sesuatu buat si budak. Ia menyelinap masuk ke dalam gubuk. Ia terkejut manakala menemukan budak itu telungkup sujud. Di atasnya bergayut lingkaran putih bercahaya.
Melihat ini, istri bangsawan segera berlari menemui suaminya dan berkata, “Wahai suamiku, sesungguhnya budak itu adalah seorang wali Allah !”. Dengan segera pasangan suami istri itu bergegas menemui si budak. Apa jawab budak itu ketika bertemu mereka ? Ia hanya menjawab singkat, “Bukankah sudah aku minta agar kalian tidak menggangguku di malam hari ?” Lalu ia menengadahkan tangannya ke langit seraya menggumankan sebuah syair yang artinya : “Wahai pemilik rahasia, sesungguhnya rahasia ini sudah terungkap, maka tak kuinginkan lagi hidup ini setelah rahasia ini tersingkap”. Tak lama setelah membacakan syair ini, si budak pun sujud dan menghembuskan nafasnya yang terakhir, meninggalkan suami istri itu dalam keheranan.
Cerita dari Imam Ghazali itu mengantarkan kita kepada beberapa hal, diantaranya bahwa kita sebagai manusia biasa tidak mengetahui begitu saja bahwa seseorang adalah wali Allah dan seseorang yang lain bukan . Menurut para sufi, la ya’rifal-wali illa al-wali, tidak akan mengetahui seorang wali selain wali Tuhan yang lainnya.
Demikianlah
beberapa artikel tentang wali Allah dan tanda tandanya, mudah mudahan
menambah wawasan dan meningkatkan motivasi kita untuk mendekatkan diri
pada Allah. Dalam surat Al Waqiah ayat 10-14 disebutkan bahwa para Wali
Allah adalah orang yang dekat dengan Allah (Al Mukarrobuun), mereka itu
sebagian besar orang zaman dahulu dan sebagian kecil dari orang zaman
sekarang (kemudian).
10. Dan orang-orang yang beriman paling dahulu, 11. Mereka itulah yang didekatkan kepada Allah. 12. Berada dalam jannah kenikmatan13. Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu, 14. dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian (Al Waqiah 10-14)
Mari
kita berlomba lomba untuk mendapatkan derajat Aulia Allah ataupun Al
Muqarrobun seperti yang disebutkan dalam surat Al Waqiah tersebut
diatas.
Label:religi
Langganan:
Posting Komentar
(Atom)




0 komentar:
Posting Komentar